Apa Itu Optimisme Sejati?

HomeKolom

Apa Itu Optimisme Sejati?

Oleh: Ahmad Ali MD Tashih MUI - Bismillāhir Rahmānir Rahīm. Orang sering bilang dalam menghadapi setiap masalah, termasuk pandemi Corona, Covid-19:

Ayo Berislam Secara Benar!
Buletin Jumat: Aktualisasi Substansi Ajaran Salat dan Puasa dalam Sendi-sendi Kehidupan
Antropologi Masyarakat Muslim

Oleh: Ahmad Ali MD

Tashih MUI – Bismillāhir Rahmānir Rahīm. Orang sering bilang dalam menghadapi setiap masalah, termasuk pandemi Corona, Covid-19: “Kita harus optimis”. Mengapa kita harus selalu optimis? Apa optimisme sejati itu? 

Topik optimisme itu begitu penting. Mari kita awali bahasan tentang optimisme, harapan (ar-rajā’), dengan melandaskan pada kitab yang sangat populer di dunia, berisi mutiara hikmah kebijaksanan, yaitu al-Hikam, karya Syaikh Ibnu Athā’illāh as-Sakandarī.

Sebelumnya kita perlu mengenal terlebih dahulu, meskipun sekilas, kitab al-Hikam (bentuk jamak dari al-hikmah: hikmah kebijaksanaan) ini.

Kitab al-Hikam adalah karya Syaikh Ibnu Athā’illah as-Sakandarī (1259-1310 M), nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin ‘Abd al-Karīm bin ‘Athā’illāh, mendapat laqab (julukan) Tāj ad-Dīn, Abû al-Fadl, dan Abû al-‘Abbāsī. Beliau adalah kelahiran dan penduduk Iskandariah, sehingga dinisbatkan kepadanya, al-Iskandarānī, as-Sakandarī, atau al-Iskandarī.

Kitab al-Hikam merupakan kitab tasawuf paling legendaris, menjadi buku induk (referensi utama) kaum sufi.

Pengarangnya seorang imam sufi besar, ulama tarekat, ahli hadis, ahli fikih Mazhab Mālikī. Lahir di kota Iskandariyah (Alexandria) Mesir 658 H/1259 M, dan wafat di kota Kairo Mesir pada 709 H/1310 M.

Kitab al-Hikam ini muat 264 hikmah (kata mutiara, kata bijaksana)

Kitab al-Hikam ini ditulis dalam bahasa meditasi dan gaya bahasa yang tiada tara tandingannya. Ajaran-ajaran spiritual yang tinggi dipadukan dengan bahasa yang memesona sekaligus keyakinan yang mendalam.

Kitab ini menjelaskan dengan sederhana dan lugas tentang cara hidup islami (the way of Islam), baik lahir maupun batin. Oleh karena itu, kitab al-Hikam sangat tepat menjadi panduan bagi orang-orang yang ingin menggapai puncak spiritual.

Aforisme-aforisme (doktrin-doktrin, prinsip-prinsip kebenaran umum) di dalamnya ditulis berdasarkan sumber utama Ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, bahkan menjelaskan kedua landasan Islam tersebut dalam masalah yang berkaitan dengan tauhid, akhlak (etika), dan perilaku sehari-hari.

Kitab al-Hikam telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia.

Saya, al-Faqīr yang dha’īf, pertama kali mengaji kitab al-Hikam ini, dengan syarah Syaikh asy-Syarqāwī dalam hāmisy (pinggir) Syarah Muhammad Ibrāhīm Ibnu ‘Abbād ar-Randī (733-792 H/1332|3-1389 M), pada Almaghfurlah Allāhuyarham Romo KH. Khozin, saat ngaji pasanan (Ramadhan) tahun 1997, di Pondok Pesantren Mahir Ar-Riyadl Ringin Agung Kepung Kediri Jawa Timur.

Ibnu ‘Abbād ar-Randī, pensyarah al-Hikam tersebut, lahir di Randah (Randa), selatan Andalusia, Spanyol, Eropa.

Dan alhamdulilah, saya mendapatkan nikmat dari Allah Taala, Tuhan Yang Maha Rahman Maha Rahim, berkesempatan berkunjung dan berziarah ke kota kelahiran Shāhib al-Hikam ini, Alexandria (Iskandariah), dan makam Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh as-Sakandarī di Cairo Mesir, yang juga negara Syaikh asy-Syarqāwī, pensyarah kitabnya tersebut, pada Oktober 2015, lima tahun silam.

Saat saya ke Eropa 2019, pada dasarnya berkeinginan ke Spanyol, tetapi belum kesampaian… Dan tetap berharap pada suatu saat bisa kerkunjung ke Spanyol, pusat peradaban Islam, salah satu tempat kelahiran pensyarah al-Hikam tersebut.

Ngaji kitab al-Hikam ini dilakukan secara tidak urut dari kata hikmah pertama, tetapi dimulai dari bahasan hikmah yang berkaitan dengan ar-Rajā’ (Optimisme, Penuh Harapan). Bahasan Optimisme ini terdapat dalam bahasan Hikmah ke-78 dalam al-Hikam.

Mudah-mudahan ini banyak manfaat dan keberkahan bagi kita semua. Amīn yā Rabb.

Dalam menguraikan untaian hikmah kitab al-Hikam, penulis menggunakan 3 syarah, pertama syarah yang dibuat oleh Syaikh Ibnu ‘Abbād at-Tafzī ar-Randī, terbitan Thaha Putera Semarang, t.t., 1 Jilid 2 Juz, dan Muassasat al-Ahrām Kairo, 1988; kedua, syarah oleh al-Imām al-Akbar (Grand Shaikh, Grand Imam of al-Azhar) ke-12, Syaikh al-Azhar asy-Syarīf Syaikh al-Islām ‘Abdullāh bin al-Hijāzī asy-Syarqāwī (Mesir 1150-1227 H/1737-1813 M), dalam Hāmisy Syarh al-Hikam karya Syaikh Ibnu ‘Abbād ar-Randī terbitan Thaha Putera di atas, dan terbitan Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1971, 1 jilid; dan al-Hikam al-‘Athā’iyyah Syarh wa-Tahlīl oleh Asy-Syāhid Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhān al-Būthī (lahir Turki, 1347-1437 H, wafat Syria, 1929-2013 M), terbitan Dār al-Fikr, Damsyiq, 2003, 5 Jilid.

Untaian Kata Mutiara dari Kitab Al-Hikam tentang Optimisme

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh as-Sakandarī mengatakan:

.اَلرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ، وَإِلَّا فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ

Harapan mesti disertai amal. Jika tidak, ia hanyalah angan-angan. Hope goes hand in hand with deeds; otherwise, it is just wishful thingking.

Syaikh Ibnu ‘Abbād ar-Randī, dalam memberikan kata mutiara tersebut, mengatakan:

…اَلرَّجَاءُ مَقَامٌ شَرِيْفٌ مِنْ مَقَامَاتِ الْيَقِيْنِ، وَهُوَ يَبْعَثُ عَلَى الْاِجْتِهَادِ باِلْأًعْمَالِ

“Harapan adalah suatu kedudukan atau tingkatan mulia di antara tingkatan-tingkatan keyakinan, yaitu yang memotivasi (mendorong) bersungguh-sungguh dalam bekerja dan beramal.”

Syaikh asy-Syarqāwī dalam memberikan syarah untaian matan al-Hikam di atas mengatakan:

(الرجاء) أي الحقيقي (ما قارنه عمل) أي ما كان باعثا على الاجتهاد في الأعمال…. لأن من رجا شيئا طلبه، ومن خاف من شيئ هرب منه (وإلا) بأن لم يقارنه عمل بل كان يفتر صاحبه عن العمل ويجرئه على المعاصي والذنوب (فهو أمنية) أي فليس برجاء حقيقة عند العلماء بل هو أمنية واغترار بالله تعالى ويقال أيضا رجاء كاذب.

“Harapan yang sejati (al-rajā’ al-haqīqī) adalah harapan yang memotivasi seseorang untuk bersungguh-sungguh dalam bekerja dan beramal. Biasanya orang yang berharap sesuatu, dia akan mencarinya.
Jika harapan tidak dibarengi amal, bahkan pelakunya malas dan enggan bekerja, serta justru mendorong kepada maksiat dan dosa, menurut para ulama, itu hanyalah angan-angan, bukan harapan sejati. Ia bukanlah harapan, melainkan ketertipuan atau penipuan kepada Allah Taala, dan juga disebut sebagai harapan palsu (rajā’ kādzib).”

Allāh Subhānahu waTa’ālā berfirman:

فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَدْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَاۚ وَاِنْ يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُۗ اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِّيْثَاقُ الْكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِۗ وَالدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ.

“Maka setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini. Lalu mereka berkata, “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam Kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?”
QS.Al-A‘rāf [7]:169

Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:

اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰه الْأَمَانِيَّ. (رَوَاهُ التِّرْمِيْذِيُّ)

“Orang yang cerdas nan baik ialah orang yang mampu mengintrokpeksi dirinya sendiri dan beramal untuk masa setelah kematian, sedangkan orang yang lemah nan buruk ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap dari Allah dengan harapan-harapan palsu.”

Berkaitan dengan optimisme sejati itu, Hujjatul Islam Imam al-Ghazālī (w.550 H), dalam kitab magnum oppus-nya, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, berkata:

فالرجاء هو ارتياح القلب لانتظار ما هو محبوب عنده ولكن ذلك المحبوب المتوقع لابد وأن يكون له سبب فإن كان انتظاره لأجل حصول أكثر أسبابه فاسم الرجاء عليه صادق.

“Optimisme adalah tentramnya hati (tidak panik) menanti sesuatu yang disenangi;
tetapi sesuatu yang disenangi itu mesti butuh sebab/ikhtiar: jika penantian untuk keberhasilan ikhtiar maksimalnya, maka itulah optimisme sejati.”

Optimisme sejati adalah sikap penuh harap yang benar, yakni bilamana seseorang tidak panik dalam masa mencapai sesuatu yang diharapkan, dengan telah memenuhi sebab-sebab, melakukan ikhtiar-ikhitiar untuk keberhasilan masa penantian sesuatu yang disenangi, yang diharapkan tersebut.

Dalam konteks era wabah atau pandemi virus Corona (Covid-19) yang melanda dunia saat ini, wajib diwujudkan sikap penuh harap (optimisme) bahwa pandemi ini segera berlalu. Optimisme itu tentu dengan ikhtiar nyata nan sungguh-sungguh. Ikhtiar nyata menghadapi pandemi Corona, saat ini, bukan lagi dengan “fight Covid-19”  (melawan)nya, tapi dengan mitigasi Covid-19 secara tepat, yaitu dengan mematuhi segala protokol kesehatan, seperti social distancing (menghindari kerumunan massa), mengurangi mobilitas yang kurang penting, physical distancing (jaga jarak aman), bermasker, hidup bersih dan sehat, menjaga imunitas, siap divaksin untuk membentuk herd immunity (kekebalan komunal), mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir, memakai hand sanitizer, dan protokol kesehatan lainnya, yang dibuat stakeholders, seperti PPKM Darurat (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat). Dan tentu harus ada kesadaran dan kerja sama semua pihak, tanpa terkecuali, dalam melalui ujian berat pandemi Covid ini.

Itu semua dalam rangka untuk kemaslahatan dan keselamatan diri dan kebaikan bersama.
Dan agama Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan kelonggaran dalam menjalani kehidupan ini, bukan mempersukar dan mempersulitnya.
Sabda Nabi SAW: yassirū wa-lā tu’assirū! Artinya: permudahlah janganlah kalian persulit!

Juga Sabda Nabi SAW: lā dharara wa-lā dhirār! Yakni tidak boleh berbuat sesuatu yang menimbulkan madharat atau bahaya terhadap diri sendiri, dan tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan orang lain.

Semoga Tuhan Yang Maha Belas Kasih, Allah SWT mencurahkan kasih-sayang-Nya kepada kita semua. Semoga yang sedang terinveksi virus Corona segera sembuh, dan kita dilindungi dan diselamatkan dari wabah ini, serta semoga badai pandemi Corona segera berlalu. Amîn…

Sulthān al-‘Ulamā’ (Pemimpin Ulama) Syaikh Ibnu ‘Abd al-Salām (577/578-660 H), dalam kitabnya, Qawā’id al-Ahkām fī Mashālih al-Anām berkata:

.وَالرَّجَاءُ وَسِيْلَةٌ إِلَى الطَّاعَاتِ وَحُسْنِ الظَّنِّ بِالرَّحْمَنِ

“Optimisme adalah media berbuat ketaatan dan berprasangka baik kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”

(al-Imâm al-Muhaddits Sulthân al-‘Ulamâ’ Abî Muhammad ‘Izz al-Dîn ‘Abd al-Azîz ibn ‘Abd al-Salâm ibn Abî al-Qâsim ibn al-Hasan ibn Muhammad ibn al-Muhadzdzab al-Silmī al-Dimasyqī al-Syāfi’ī, Qawā’id al-Ahkām fī Mashālih al-Anām, Beirut, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999, Juz II, hlm. 131)

Jadi, optimisme itu, harus dibarengi dengan amal, dan tawakkal.

Berkaitan dengan tawakkal Syaikh Muhammad Amīn al-Kurdī (w. 1332 H) dalam kitabnya, Tanwīr al-Qulūb, berkata:

ومن يتوكل على اللّٰه ويسلم لقضائه ويفوض الأمر إليه ويرض بقدره فقد أقام الدين وأحسن الإيمان واليقين وفرغ يديه ورجليه لكسب الخير وأقام الأخلاق الصالحة التي تصلح للعبد أمره. ومن طعن في التوكل فقد طعن في الإيمان لأنه مقرون به.

“Barangsiapa bertawakkal (memasrahkan urusan setelah ikhtiar) kepada Allah, berserah diri kepada qadha’ (ketetapan)-Nya, dan menguasakan urusan kepadaNya serta ridha (rela) terhadap taqdir (ketentuan)-Nya, maka sungguh ia telah menegakkan agama, memperbagus keimanan dan keyakinannya, serta telah menyelesaikan tanggung jawab kedua tangan dan kedua kakinya untuk berbuat kebaikan, dan juga menegakkan akhlak mulia yang menjadikan baik urusan manusia.

Sebaliknya, barangsiapa mencederai tawakkalnya maka ia telah mencederai keimanannya, karena keimanan itu diiringi dengan tawakkal.”

(Syaikh Muhammad Amīn al-Kurdī, Tanwîr al-Qulūb fī Mu’āmalat ‘Allām al-Quyūb, tashhih Khālid al-‘Aththār, Beirut: Dār al-Fikr, 1995, hlm. 419).

Apa tawakkal itu? Definisi tawakkal itu, misalnya sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh al-Kurdī, dalam kitabnya tersebut:

.التوكل هو طرح البدن في العبودية وتعلق القلب بالربوبية والطمأنينة إلى الكفاية، فإن أعطي شكر، وإن منع فصبر

“Tawakkal adalah seseorang menghempaskan badannya dalam beribadah kepada Tuhan dan menggantungkan hati kepada rubūbiyyah (pemeliharaan)-Nya serta merasa tenteram kepada apa yang sudah ada padanya, sehingga jika ia diberi –sesuatu yang diharapkan– maka ia bersyukur, tetapi jika ia terhalang dari (tidak diberi) –sesuatu yang diharapkan itu– maka ia bersabar. (Idem, hlm. 117).

Ayo kita senantiasa penuh harap (optimis) dalam menjalani kehidupan ini, dengan bekerja dan beramal (ikhtiar, tawakkal) dalam bingkai sabar!

Hadānallāhu wa-Iyyākum ajma’īn…

Semoga Allah SWT. mengabulkan harapan-harapan baik kita. Semoga pandemi Corona segera berakhir. Semoga kita diberikan keselamatan dan kebaikan. Amīn yā Mujībad Da’awāt…

Ahmad Ali MD, Kolumnis, Pemateri Keislaman di Tiga Benua (Asia, Afrika, dan Eropa)
Twitter: @AliMD
IG: @ahmadali.md
Youtube: Ahmad Ali MD
Fb: Ahmad Ali MuslimDaroini

*)Artikel sudah diedit sekedarnya, semula dimuat dalam situs Bangkitmedia.com, 21 Oktober 2020, “Makna Optimisme dalam Kitab Hikam”.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0