Hikmah Isra’ Mi’raj

HomeKolom

Hikmah Isra’ Mi’raj

Hikmah Isra’ Mi’raj Oleh: Ahmad Ali MD Tashih MUI - SAAT ini kita berada di bulan Rajab, satu di antara empat bulan yang dikenal sebagai asyhurul

Spirit Jihad Memperingati Hari Santri Nasional 2022
LPBKI MUI Gelar Silatnas III Stakeholders Konten Keislaman
Khutbah Jumat: Keistimewaan Muharram dan Hikmah Hijrah

Hikmah Isra’ Mi’raj
Oleh: Ahmad Ali MD

Tashih MUI – SAAT ini kita berada di bulan Rajab, satu di antara empat bulan yang dikenal sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan mulia), di dalamnya umat Islam diharamkan perang dan pertumpahan darah, kecuali untuk defensif (mempertahankan diri), karena diperangi. Dalam bulan Rajab ini kita diingatkan dengan peristiwa besar, Isra’ Mi’raj, umumnya diperingati setiap tanggal 27 Rajab. Oleh karena itu, penting bagi kita memperhatikan kembali peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.a.w. Mengapa? Hal ini karena hikmah yang begitu besar atau pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam. Dengan memahami hikmah Isra’ Mi’raj, kita akan mendapatkan banyak pelajaran berharga untuk kehidupan sehari-hari, dan untuk menyambut bulan puasa Ramadhan mendatang.

Sekurang-kurangnya ada enam hikmah Isra’ Mi’raj. Pertama, hikmah Isra’ Mi’raj menunjukkan kepada kita tentang ke-Maha Kuasaan Tuhan Pencipta Alam (‘ajâib qudratillâh). Peristiwa Isra’ Mi’raj, yakni perjalanan Nabi Muhammad S.a.w. dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerussalem Palestina, masjid pertama kali yang dibangun di dunia oleh Nabi Adam ‘alaihissalam, setelah Ka’bah, berselang 40 tahun, kemudian naik ke Sidratul Muntaha menghadap kepada Allah Yang Maha Kuasa, adalah peristiwa mu’jizat, hanya dapat terlaksana dengan izin dan kekuasaan Tuhan. Untuk menembus ke angkasa, harus dengan modal kekuasaan; dalam konteks modern, kekuasaan itu dapat dimaknai sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi (saintek). Maka, saintek sangat penting bagi kehidupan dalam kerangka ibadah untuk meraih ridha-Nya.

Kedua, hikmah Isra’, yakni perjalanan Nabi Muhammad S.a.w. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang dikenal sebagai Baitil Maqdis atau Baitil Muqaddas, yaitu tempat yang disucikan dari peribadatan kepada selain Allah Ta’ala, karena di dalamnya tidak pernah disembah berhala pun, adalah untuk menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad S.a.w. atas seluruh nabi dan rasul, karena beliau menjadi imam di tempat mereka. Hal ini, karena orang yang mempunyai kewenangan untuk mengajukan imam salat di rumahnya adalah penguasa atau pemimpin, karena penguasa itulah yang mempunyai kompetensi absolut atau kewenangan mutlak untuk menunjuk imam atas selainnya.

Ketiga, hikmah Isra’ Mi’raj adalah bahwa ibadah itu harus diawali dengan kesucian, yakni niat yang baik dan suci dari unsur-unsur atau aspek-aspek manipulatif (ghurûr). Ini diisyaratkan dengan kalimat ”Subhâna”, dalam QS. Al-Isrâ’ (17): 1, yang berarti tanzîh, Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya… Maksud tanzîh ini adalah menunjukkan kemurniaan dari segala kekurangan (al-tanzîh ‘an kulli naqshin), karena peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan mukjizat yang belum pernah dialami oleh selain Nabi Muhammad S.a.w. Selain itu, maksud dari kata ”Subhâna ” adalah ta’jub saja (al-ta‘ajjub faqad), terhadap kemahasucian Allah Ta’ala, di mana seorang mukmin sejati tidaklah najis atau menajiskan, yakni ia selalu berbuat yang suci, takjub kepada Kemaha Kekuasaan Tuhan dan Kesempurnaan-Nya yang telah memperjalankan Nabi S.a.w. dalam Isra’ Mi’raj, karena peristiwa ini di luar kebiasaan (al-khâriq li al-‘âdah).

Dalam riwayat mengenai Isra’ Mi’raj ini, terdapat hikmah yang tersirat bahwa karena keagungan misi untuk menghadap Allah S.w.t. untuk menerima ibadah yang sangat penting, yaitu salat lima waktu, terlebih dahulu Nabi Muhammad S.a.w. dibelah dadanya untuk diisi dengan nilai-nilai kesucian. Ini menjadi tanda dan perlambang bahwa untuk misi kebaikan haruslah diawali dengan kebaikan, dan dengan sarana kebaikan, yang menggambarkan kesucian diri dari segala keburukan untuk menuju suatu kebaikan. Dalam kerangka ini, untuk menjadi pemimpin apapun harus diawali dengan niat baik, dalam rangka ibadah, yang dioperasionalisasikan dengan kesungguhan mengemban amanat bagi kemaslahatan bangsa, khususnya umat Islam sebagai mayoritas di negeri ini.

Kempat, hikmah Isra’ Mi’raj adalah bahwa untuk sampai dan dekat pada Zat Yang Maha Suci, Allah ‘Azza Wajalla, haruslah menjadi pribadi yang suci, atau yang baik lahir dan batinnya pula.

Kelima, hikmah Isra’ Mi’raj adalah menjadi ujian bagi kita untuk semakin meningkatkan keimanan kita kepada segala yang gaib; adanya alam akhirat, nikmat, azab, surga dan neraka. Keyakinan terhadap hal-hal gaib ini hanya dapat dicapai dengan keimanan, dan ilmu pengetahuan hanyalah bersifat memperteguh keimanan kita. Ibadah puasa Ramadhan yang akan kita laksanakan sangat syarat dengan nilai dan ajaran keimanan.

Keenam, hikmah Isra’ Mi’raj yang sangat penting bagi kita, adalah menyadarkan kepada kita mengenai khithâbullâh, perintah Tuhan, yang secara langsung diterima Nabi S.a.w., berupa kewajiban salat lima waktu.

Begitu banyak kajian tentang salat menempati kedudukan yang sangat penting dalam Islam, dan tidak ada yang lebih pentingnya. Antara lain: 1) karena salat adalah ibadah pertama kali yang diwajibkan Tuhan kepada umat Islam melalui perintah-Nya kepada Rasulullah S.a.w. langsung pada malam Mi’raj, tanpa ada perantara pun. Awalnya diwajibkan sebanyak lima puluh kali, kemudian didiskon menjadi lima kali sehari semalam, meskipun begitu, nilai pahalanya sebanding dengan lima puluh kali salat (HR. Ahmad, al-Nasâ’î dan al-Tirmidzî). 2) Salat merupakan amal perbuatan seseorang yang pertama kali akan dihisab nanti. 3) Salat adalah wasiat terakhir Nabi S.a.w. kepada umatnya ketika beliau wafat. Dan 4) Salat adalah pegangan atau ajaran pokok yang paling terakhir akan lenyap dari agama Islam. Jika salat disia-siakan atau lenyap maka ketentuan agama Islam pun akan disia-siakan atau lenyap seluruhnya.

Oleh karena pentingnya salat itulah, Allah S.w.t. memerintahkan agar kita menjaganya dengan sebaik-baiknya dalam setiap keadaan apapun: di rumah, di perjalanan, kondisi aman maupun tidak aman. Demikian juga karena pentingnya salat itu, kita diperintahkan untuk menjadikan salat di samping kesabaran sebagai perantara penolong kita dalam memenuhi urusan yang penting. Firman Allah S.w.t.: ”Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan sungguh (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (QS. al-Baqarah [2]: 45). Kita juga diajarkan agar berdoa dengan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang tersebut dalam Al-Qur’an: ”Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”. (QS. Ibrahim [14]: 40).

Semoga kita, keluarga dan masyarakat kita semua, menjadi orang-orang yang semakin berkualitas keimanannya kepada Sang Khaliq dan alam akhirat, sehingga semakin meningkat kualitas salat dan amal-amal saleh kita, baik saleh individual maupun saleh sosial. Amin.

Dr. Ahmad Ali MD, M.A., Kolomnis Keislaman, Pemateri Keislaman di Tiga Benua (Asia, Afrika, dan Eropa), Doktor Pengkajian Islam Bidang Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Wakil Sekretaris Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI MUI)

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Buletin Jum’at Risalah Nahdlatul Ulama, terbitan LTN PBNU, Edisi 163, Maret 2021]

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0